Educrazy's Blog Title

Tutorial WordPress dan Gudangnya Pengetahuan

Mereka yang Dicari-Cari Malaikat

Posted by educrazy pada Mei 2, 2010

Setiap hari ada beberapa malaikat yang berkeliling menyusuri jalan-jalan di bumi. Mata mereka awas dan pikiran mereka terkonsentrasi mencari orang-orang yang berdzikir.

Ada sebuah kisah anekdot sufi yang cukum masyhur. Pelaku kisah ini tak lain adalah Nasrudin. Laki-laki yang terkenal suka bertingkah aneh namun memiliki hati yang ikhlas itu, suatu ketika berniat pergi ke pasar Baghdat. Saat tiba di sana dan melihat bagaimana ramainya orang berseliweran timaullah rasa cemas di hatinya.

“Demikian ramai orang di sana. Bagaimana nanti kalau aku hilang?” ujarnya kepada temannya.Teman Nasrudin tersentak mendengar keluhan itu dan berpikir ada benarnya juka kecemasan itu.

“Aku ada akal,” ujar teman Nasrudin setelah berpikir agak lama. “Agar kau tak hilang, ikatkan saja balon ke kakimu, gampang kan,” usulnya senang.

Menurut teman Nasrudin tersebut, jika nanti Nasrudin benar-benar hilang di pasar Baghdat tinggal cari saja siapa orang yang dikakinya ada balonmaka itulah Nasrudin. Saran itu diterima baik oleh Nasrudin. Ia pun lalu mengambit balon dan mengikatkannya di pergelangan kakinya. Dengan percaya diri Nasrudin pun memasuki pasar Baghdad.

Setelah berkeliling agak lama, Nasrudin merasa lelah dan tertidur. Ketika terbangun, Nasrudin kaget luar biasa karena di kakinya sudah tak ada lagi balon yang terikat.

“Aku hilang, aku hilang…”, katanya galau. Tapi kepanikan itu hanya berlangsung beberapa saat saja. Hati Nasrudin kembali ldga setelah melihat sesosok laki-laki tengah tertidur pulas dengan balon yang terikat di kauinya. “Uh, hampir saja aku hilang,” ujarnya sambil menarik nafas lega.

Namun baru saja kelegaan itu melanda hatinya Nasrudin kembali tersentak. “Kalau orang yang tidur itu adalah Nasrudin, masya Allah… lalu siapa saya?”

Mengenal Allah

Banyak sekali hikmah yang dapat kita petik dari kisah ini. Sekalipun terdengar bodoh, tapi ketakutan Nasrudin sebenarnya adalah ketakutan hakiki manusia. Saat pertama kali mata manusia terbuka ketika dilahirkan, manusia sebenarnya sudah memulai perjalanannya ke dunia yang tidajk ada bedanya dengan perjalanan menuju pasar yang riuh dan padat di kota Baghdad. Siapa bisa menjamin di pasar yang tak dikenali itu dengan segala hal yang ada didalamnya yang entah menyenagkan atau mengancam. Seseorang yang tak akan hilang, terjebak dan ujungnya meraih penderitaan?

Karenanya kita butuh pegangan dan pedoman. Dan Nasrudin memilih mengikatkan balon ke kakinya sebagai pedoman baginya. Dengan pedoman itu, Nasrudin mengarungi pasar dengan percaya diri. Tapi kemudian kita ketahui tak selamanya pedoman itu menyelesaikan masalah. Malah pedoman itulah yang menghadirkan masalah baru seperti yang dialami Nasrudin. Ia kebingungan setelah menemukan orang dengan balon yang terikat dikakinya yang kemudian disimpulkan sebagai dirinya, sementara ia tak tahu lagi siapa dirinya.

Man arofa nafsahu arofa rabbahu, siapa yang mengenal dirinya maka ia akan mengenal Tuhannya. Itulah hikmah terbesar yang dapat kita petik dari kisah ini. Kesungguhan menghayati kemanusiaanlah yang membawwa seseorang mengenal Tuhan. Kesadaran bahwa kita adalah makhluk yang fana dan terbatas, tak kekal dan lemah serta perlu kepada Allah SWT. sebagai zat yang Maha Besar dan Maha Kuasa., membuat seseorang menyadari kekuasaan-Nya dan dengan rela mengabdi kepada-Nya. Itulah pedoman tertinggi manusia yang membuatnya tak hilang dan menderita di dunia.

Lalu bagaimanakah meneguhkan hati itu di dada kita? Hal terbaik adalah berdzikir. Dengan dzikir, kita menghadirkan Allah secara senantiasa dalam hati kita. Dengan menghadirkan terus-menerus, kita juga akan semakin mengenalnya dan semakin mengenal kehambaan kita. Karenanya wajar jika Nabi SAW. menyebut perumpamaan orang yang berdzikir sebagai orang hidup dan orang mati. Hidup karena adanya kesadaran dan pedoman yang jelas bagi perjalanannya di dunia yang membuatnya selamat. Sedangkan yang tidak memiliki pedoman dan kesadaran itu tak ubahnya seperti orang mati yang tidak mampu melakukan perjalanan di dunia dengan selamat.

Orang-orang yang memiliki pedoman dengan berdzikir inilah, seperti dikabarkan oleh Imam Bukhari dalam sahihnya, yang dicari-cari malaikat. Mereka jugalah yang kemudian menjadi objek pembicaraan antara Allah dan para Malaikat pencari itu sebagaimana dikisahkan Nabi SAW.

“Apa yang dilakukan hamba-hambak-Ku ini,” kata Allah SWT. kepada Malaikat itu.

“Mereka bertasbih, bertakbir, bertahmid dan member pujian kepada-Mu,” jawab Malaikat.

“Apakah mereka melihat-Ku?”

“Tidak. Demi Allah mereka tidak melihat-Mu”.

“Bagaimana jika mereka melihat-Ku?”

“Seandainya mereka melihat-Mu niscaya mereka akan lebih bersunguh-sungguh beribadah kepada-Mu, lebih serius memuji-Mu dan lebih banyak bertasbih kepada-Mu”.

Dan Allah pun lalu berkata,”Aku persaksikan kepada kalian bahwa Aku telah memberikan ampunan kepada mereka”. Wallahu a’lam bishawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: