Educrazy's Blog Title

Tutorial WordPress dan Gudangnya Pengetahuan

Hikmah Merenungkan Mati

Posted by educrazy pada Mei 8, 2010

Kematian adalah sebuah keniscayaan. Ia telah ditetapkan sejak manusia masih dalam kandungan. Ia pasti datang menjemput setiap makhluk yang bernyawa. Maka, adalah ironi bila kita meragukan apalagi mengingkarinya.

Bila anda ditanya, yakinkah anda akan datangnya kematian? Anda tentu menjawab,”Ya”. Namun apa jawaban Anda bila pertanyaan itu dirubah menjadi siapkah Anda menghadapi kematian? Mungkin kebanyakan kita akan mengatakan, “Tidak!”.

Membincang kematian, rasa-rasanya tak seorang pun siap menghadapinya. Pasalnya, kehidupan manusia di era mutakhir ini lebih mementingkan unsur-unsur duniawi ketimbang unsu-unsur ukhrawi, yang merupakan modal dasar menghadapi mati. Manusia sekarang lebih berlomba mengumpulkan harta, daripada amal shaleh.

Semua orang memang tahu bahwa kematian itu pasti terjadi. Hanya saja, masih sedikit orang yang benar-benar mau menyadari. Kebanyakan justeru berusaha menghindarinya. Buntutnya, mereka menjadi pengecut yang selalu merasa takut akan resiko yang timbul dari sebuah tindakan.

Atau, tidak sedikit orang yang berusaha membebaskan akal pikiranyya dari bayang-bayang maut. Akibatnya, jalan hidup yang mereka tempuh jauh dari nilai-nilai ukhrawi, yang nota bene sekali lagi modal dasar menghadapi kematian.

Karena itu, adalah wajar bila jalan hidup yang mereka tempuh semakin menjauhkan mereka untuk menyiapkan amal kebajikan dalam rangka menyongsong kematian. Sehingga, ketika kematian itu datang, mereka belum mempunyai persiapan apaun. Saat itulah mereka akan menyadari bahwa jalan hidup yang ia tempuh adalah keliru. Di sanalah mereka menyadari bahwa usaha menghindari kematian adalah sia-sia belaka.

Dalam kamus kehidupan manusia, kematian itu ibarat air. Suka atau pun tidak, setiap manusia pasti akan meminumnya, atau kematian itu laksana udara. Senang ataupun tidak, setiap manusia akan menghirupnya. Demikianlah keniscayaan mati, sehingga Hasan al-Basri, seorang sufi terkemuka pernah berkata,”Aku tidak pernah mendapatkan keyakinan yang kukuh seperti keyakinanku pada kematian”.

Kini, kematian sedang berjalan menghampiri kita. Ia tidak pernah memperlambat langkah-langkahnya, tidak pula mempercepatnya. Ia pasti datang tepat pada waktunya. Ia akan manusia dari kehidupan dunia melalui sebuah proses yang bernama sakaratul maut.

Apakah sakaratul maut itu? Ia adalah saat-saat manusia merasakan sakit yang luar biasa; ketika nyawanya tercabut dari jasad. Sakaratul maut merupakan saat-saat dimana manusia menrima balasan dari amalan yang dilakukannya.

Jika manusia gemar melakukan amal kebajikan, maka ia akan mendapat khusnul khatimah (akhir yang baik) dan tempatnya adalah surga. Namun sebaliknya, bila ia suka melakukan kejelekan, maka ia akan mendapat su’ul khatimah (akhir yang buruk) dan tempatnya adalah neraka.

Andai manusia merenungkan saat-saat sakaratul maut ini, niscaya ia akan mempersiapkan diri sebaik mungkin. Ia akan mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya, sehingga ketika nyawa itu melayang, dari bibirnya akan tersungging senyum kebahagiaan, dari matanya akan mengalir air mata keharuan.

Sungguh, detik-detik sakaratul maut merupakan saat yang paling mengerikan. Demikian fenomena sakaratul maut, sehingga Nabi Isa as. Pernah berkata kepada malaikat pencabut nyawa,”Jika engkau bisa memalingkan kematian dari seseorang, maka palingkanlah ia dariku”.

Terkait dengan fenomena sakaratul maut, Ibnu Abbas, mufasir ternama dari kalangan sahabat Rasulullah SAW. menjelaskan,”Penderitan terakhir yang dijumpai seorang muslim adalah sakaratul maut”. Ungkapan ini secara implisit bahwa bila mukmin saja menderita saat sakaratul maut, maka nagaimana halnya dengan umat-umat yang lain?

Kiranya, dalam rangka memuluskan sakaratul maut, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa mengingat atau merenungkan mati cukup membuat hati manusia bergetar. Sehingga perasaan itu pada tahap-tahap berikutnya akan mendorong anggota tubuh untuk menunaikan kebajikan.

Memang, tidak semua hati akan bergetar. Tidak semua anggota tubuh akan tergerak. Hanya hati yang berhias takwa sajalah yang mampu merasakannya. Sementara hati yang keras membatu tidak akan mampu menangkap makna dari renungan kematian.

Kematian memang menakutkan. Ibarat penyakit, ia epidemic yang belum ada penawarnya. Ia mengancam siapa saja yang ceroboh dalam mengarungi alur hidupnya. Walau begitu, setidaknya anjuran Nabi Muhammad SAW. dapat menjadi sandaran manusia dalam menghadapi kematian. ”Cukup kematian itu sebagai nasihat”. (HR Thabrani dan Baihaqi)

Anjuran Nabi tersebut menekankan agar manusia menjadikan mati sebagai penasehat, dan bukan merupakan sesuatu yang harus ditakuti. Ini artinya, dengan mengingat mati manusia akan mendapat banyak nasehat dan pelajaran.

Nasehat dan pelajaran paling berharga adalah bangkitnya kesadaran untuk mempersiapkan bekal kehidupan akhirat. Hal itu bisa ditempuh dengan meningkatkan amal kebajikan yang ditopang dengan nilai-nilai kaimanan dan ketakwaan.

Dengan demikian, mengingat kematian dengan tujuan untuk memudahkan diri dalam mempersiapkan bekal menghadapi kematian adalah perkara yang penting dilakukan setiap umat manusia.

Sebagaimana Allah SWT. berfirman dalam surat Al An’am ayat 61: “ Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamban-Nya dan di utus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang diantara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: